Woensdag 01 Mei 2013

Pengantar Ilmu Ekonomi (Pendapatan Nasional)



                                                                BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prestasi ekonomi suatu Negara atau bangsa dapat dinilai dengan berbagaiukuran agregat. Secara umum, prestasi tersebut diukur melalui sebuah besarandengan istilah pendapatan nasional. Meskipun bukan merupakan satu-satunyaukuran untuk menila suatu prestasi suatu Negara atau bangsa, pendapatan nasionalcukup representative dan sangat lazim digunakan. Pendapatan nasional bukanhanya berguna untuk menilai perkembangan ekonomi suatu Negara atau bangsadari waktu ke waktu, tetapi juga membandingkannya dengan nilai Negara lain.Rincian secara sektoral dapat menerangkan struktur perekonomian Negara yang bersangkutan. Di samping itu, dari angka pendapatan nasional selanjutnya akandiperoleh pula ukuran turunan (derived measure) seperti pertumbuhan ekonomidan pendapatan per-kapita.
Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia merupakan Negara yangsedang berkembang. Sejak masa reformasi, Indonesia mulai melakukan inovasi-inovasi dan membangun perekonomian di Negara. Selain itu usaha-usaha untuk mensejahterakan rakyat juga selalu di prioritaskan. Sebagai contoh, program limatahunan (pelita) yang selalu diadakan dan dilaksanakan oleh Indonesia sejak  beberapa tahun yang lalu.
Namun, dalam mengimplementasikan hal-hal tesebut, pemerintahan masih mengalami kesulita. Terutama dalam pengalokasian APBD maupun pendanaan-pendanaan lainnya. Sehingga maih banyak rakyat yang masih beradadibawah garis kemiskinan. Selain itu pertumbuhan penduduk tanpa diimbangidengan lapangan pekerjaan maupun skill yang baik, maka banyak penduduk Indonesia yang masih menjadi pengangguran. Anak-anak yang kurang beruntungatau terlantar juga banyak dan bias kita temui di sisi jalan maupun di tengah jalandengan membawa sebuah kaleng maupun berkeliling membawa Koran dan barangasongan.
Masalah lain yang terkait dengan hal ini adalah masalah struktur ekonomi Indonesia. Dimana yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Hal itu tidak lain dikarenakan adanya ketidakadilanmaupun ketidak- seimbangan dan kurangnya pemerataan di masyarakat, terutama pada kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, penulis mencoba untuk mendiskripsikan pengertian dari pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi danstruktur ekonomi, khususnya di Indonesia dalam makalah dengan judul “Pendapatan Nasional,”.

                                                                               
 1.2 Rumusan Masalah
      1.2.1Bagaimanakah konsep-konsep pendapatan nasional Indonesia?
      1.2.2Bagaimanakah pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi diIndonesia?
      1.2.3Bagaimanakah pendapatan per-kapita dan kemiskinan di Indonesia?
      1.2.4 Bagaimanakah struktur ekonomi di Indonesia?
1.3 Tujuan
   1.3.1 Mengetahui dan memahami konsep-konsep pendapatan nasionalIndonesia.
   1.3.2 Mengetahui dan memahami pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi        di Indonesia.
         1.3.3 Mengetahui dan memahami pendapatan per-kapita dan kemiskinan     diIndonesia.
         1.3.4 Mengetahui dan memahami struktur ekonomi di Indonesia.








BAB 11
PEMBAHASAN
2.1  Siklus Aliran Pendapatan ( Circular Flow ) dan Interaksi Antar Pasar
2.1.1 Siklus Aliran Pendapatan (Circular Flow)
Siklus aliran pendapat (circular flow) seperti ditunjukkan oleh gambar adalah sebuah model yang menggambarkan bagaimana interaksi antara pelaku ekonomi menghasilkan pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran dalam upaya memaksimalkan nlai kegunaan (utility) masing-masing pelaku ekonomi.







Model Circular Flow membagi perekonomian menjadi empat sektor:
1.      Sektor Rumah Tangga (Household Sector), yang terdiri atas sekumpulan individu yang dianggap homogeny dan identik.
2.      Sektor Perusahaan (Firms Sector), yang terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
3.      Sektor Pemerintahan (Government Sector), yang memiliki ewenangan politik untuk mengatur kegiatan masyarakat dan perusahaan.
4.      Sektor Luar Negri (Foregn Sector), yaitu sektor oerekonomian dunia, dimana perekonomian melakukan transaksi ekspor-impor.
·         Sektor Rumah Tangga
Sektor rumah tangga memiliki factor-faktor produksi yang dibutuhkan untuk proses produksi barang dan jasa privat (sektor perusahaan) maupun barang dan jasa public (sektor pemerintahan). Factor-faktor produksi tersebut adalah kesediaan untuk bekerja (tenaga kerja), barang modal (misalnya tanah), uang dan kesediaan untuk menanggung risiko yang dihadapi oleh perusahaan dengan membeli saham.
·         Sektor Perusahaan
Aliran pengeluaran sektor rumah tangga (garis 4) merupakan aliran pendapatan sektor perusahaan. Selain dari sektor rumah tangga, perusahaan memperoleh pendapatan dari sektor pemerintah (garis 5) yang merupakan konsumsi pemerintah, dan dari permintaan sektor luar negeri yang merupakan ekspor sektor perusahaan (garis 7). Selain melakukan pembayaran untuk sektor rumah tangga (garis 1), perusahaan juga membayar pajak kepada pemerintah (garis 6).
·         Sektor Luar Negeri
Sektor rumah tangga, perusahaan, dan oemerintah merupakan perekonomian domestic. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy), jika tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Interaksi dengan sektor luar negeri dalam perekonomian terbuka (open economy) disederhanakan dengan mekanisme ekspor (garis 7) dan impor (garis 8). Ekspor merupakan aliran pendapatan dari sektor luar negeri ke pereonomian domestic. Sedangkan impor merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestic ke sektor luar negeri.

2.1.2  Tiga Pasar Utama (Three Basic Markets)
1.      Pasar Barang dan Jasa
Pasar barang dan jasa adalah pertemuan antara permintaan dan penwaran barang dan jasa. Permintaan tersebut umumnya merupakan permintaan barang dan jasa akhir. Misalnya, perusahaan mobil tidak menambang sendiri bijih besi yang dibutuhkan.
2.      Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah interaksi anatar permintaan dan penawaran tenaga kerja. Misalnya penawaran tenaga kerja untuk buruh-buruh perkebunan kelapa sawit di Malaysia berasala dari Indonesia.
3.      Pasar Uang dan Modal
Pasar uang adalah interaksi antara permintaan uang dengan penawaran uang. Sebagai balas jasa atas kesediaan menunda penggunaan uangnya, individu tersebut mendapat balas jasa berupa pendapata bunga. Permintaan akan uang berasal dari pihak-pihak yang membutuhkan uang dengan berbagai alasan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dia harus bersedia membayar, misalnya membayar bunga.
Jika hak penggunaan yang diperjualbelikan adalah setahun atau kurang, maka pasar tersebutmasuk kategori pasar uang (money market). Jika hak penggunaan uang yang diperjualbelikan lebih dari setahun, pasar tersebut adalah pasar modal (capital market).
2.2      Metode-metode Penghitungan Pendapatan Nasional
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional, yaitu metode output (output approach), metode pendapatan (income approach), dan metode pengeluaran (expending approach). Masing-masing metode (pendekatan) melihat pendapatan saling melengkapi.
2.2.1        Metode Output (output Approach) atau Metode Produksi
Menurut metode ini, PDB adalah total outpu (produksi) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Cara penghitungan dalam praktik  adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sektor produksi (industrial origin). Jumlah outout masing-masing sektor merupakan jumlah output jumlah keseluruhan perekonomian. Akibatnya angka PDB bisa menggelembung beberapa kali lipat dari angka sebenarnya.. untuk menghindarkan hal di atas, maka dalam penghitungan PDB dengan metode produksi, yang dijumlahkan adalah nilai tambah (value added) masing-masing sektor. Yang dimaksud nilai tambah adalah selisih antara nialai output dengan nilai input antara.
NT=NO-NI………………………………………………….                        (13.1)
                        Dimana:
                                    NT = Nilai tambahpu
                                    NO = nilai out
                                    NI = nilai inout antara
            Dari persaan (13.1) sebenaranya dapat dikatakan bahwa prose produksi merupaka proses menciptakan atau meningkatkan nilai tambah. Aktivitas produksi yang baik adalah aktivitas yang menghasilkan NT > 0. Dengan demikian besarnay PBD adalah:
                        PDB = …………………………………………………(13.2)
Di mana :
 I= sektor produksi ke 1,2,3,….,n
Ilustrasi berikut akan mempertajam uraian di atas
Tabel 13.1
Output sektoral negara astina tahun 2007
Sektor produksi
Nilai output
Nilia input
Nilai tambah
1.      Pertanian
2.      Parik benang
3.      Parbik tektill
4.      Industry Garmen
5.      Perdagangan  (pakaian)
300
400
600
800

1.000
0
300
400
600

800
300
100
200
200

200

Table 13.1 menunjukkan Astina yang sangat sederhana, karena hanaya terdiri atas lima sektor produksi, dari pertanian sampai perdaganagn
Bila tidak berhati-hati, kita akan mengatakan bahwa nilai produksi total perekonomian Astina di tahun 2007 adalah sama dengan nilai output total masing-masing sektor, atau 3.100, yaitu 300+400+600+800+1.000. Misalnya, nilai output pabrik benang yang besarnya 400, sebesar 300 merupakan hasil sektor pertanian kapas. Begitu juga hasil produksi sektor pabrik tekstil yang sebesar 600, menggunakan input yang merupakan output pabrik benang senilai 400. Padahal, pabrik benang untuk menghasilkan output senilai 400, membeli output sektor pertanian kapas senialai 300 input antara.
Untuk menghindari perhitungan ganda, maka nilai PDB dihitung dengan menjumlahkan nilai tambah masing-masing sektor produksi. Karena perhitungan PDB yang benar adalah:
==300+100+200+200= 1.000
Angka PDB2005 adalah sama dengan angka nilai jual output sektor perdagangan pakaian, k arena telah menjadi proses akumulasi nilai tambah.
Table 13.2 adalah contoh penghitungan PDB berdasarkan metode produksi untuk perekonomian Indonesia tahun 1996.
Table 13.2
PDB Indonesia Tahun 1996. Harga berlaku
Berdasarkan sektor (Industrial Origin)
(Dalam Milliar Rupiah)
Lapangan Usaha
(Industrial Origin)
PDB
1996
1.      Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
2.      Pertambangan dan Pergalian
3.      Industry pengelolaan
4.      Listrik, Gas, dan Air bersih
5.      Bangunan
6.      Perdagangan. Hotel, dan Restoran
7.      Pengangkutan dan Komunikasi
8.      Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
9.      Jasa-jasa
86.212
43.893
133.088
6.561
42.279
88.451
35.554
38.769
54.149
      Produk Domestik Bruto
528.956

           2.2.2.Metode Pendapatan (Income Approach)
            Metode pendapatn memandang nilai output perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunkan dalam proses produksi. Hubungan antara tingkat output dengan faktor-faktor produksi yang digunakan digambarkan dalam fungsi produksi sederhana dibawah ini.
Q = f(L,K,U,E)………………………………………………………(13.3)
di mana:          Q = output
                        L = tenaga kerja
K = barang modal
                        U =  uang/financial
                        E = kemampuan enterpreneur atau kewirausahaan
            Persamaan 13.3 menunjukan bahwa untuk memproduksi output dibutuhkan input berupa tenaga kerja,barang modal, dan uang yang banyak tidaak akan  menghasilkan apa-apa jika tidak ada kemampuan entrepreneur. Kemampuan enterpreneurini adalah kemampuan dan keberanian mengombinasikan tenaga kerja, barang modal, dan uang untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
            Balas jasa untuk tenaga kerja adalah upah atau gaji. Untuk barang modal adalah pendapatan sewa. Untuk pemilik uang/asset financial adalah pendapatan bunga. Sedangkan untuk pengusaha adalah keuntungan. Total balas jasa atas seluruh factor produksi disebut Pendapatan Nasional (PN).
            PN = w + i + r +  ……………………………………………………….(13.4)
Dimana:
           w = upah/gaji (wages/salary)
            i  = pendapatan bunga (interest)
            r  = pendapatan sewa (rent)
             = keuntungan (profit)
            Di Indonesia, perhitungan Pendapatan Nasional seperti yang dimaksudkan dalam teori, jarang di publikasikan. Karena itu contoh yang diambil adalahdata Pendapatan Nasional perekonomian Amerika Serikat, seperti yang disajikan dalam table 13.3.
Table 13.3
Pendapatan Nasional Amerika Serikat
Tahun 1994 Berdasarkan Pendekatan pendapatan
(Dalam US$ Milliar)

Pendapatan upah/gaji (Computationof Employes)
Pendapatan nongaji (Properties Income)
Keuntungan perusahaan (Corporate Profits)
Pendapatan Bunga Neto (Net Income)
Pendapatan Sewa (Rental Income)
4.004,6
473,7
542,7
409,7
27,7
Pendapatan Nasional (National Income)
5.458,4

2.2.3  Metode Pengeluaran (Expeniture Approach)
 Menurut metode pengeluaran, nilai PDB merupakan nilai total pengeluaran dalam perekonomian selama periode tertentu. Menurut metode ini nilai ada beberapa jenis pengeluaran agregat dalam suatu perekonomian:
      1). Konsumsi rumah tangga (Household Consumption)
Pengeluaran sektor rumah tangga dipakai untuk konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis pakai dalam tempo setahun atau kurang (durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun/barang tahan lama (non-durable goods).
2). Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
            Yang masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah adalah pengeluaran- pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang dan jasa akhir (goverment expenditure).
3). Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Investment Expenditure)
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) merupakan pengeluaran sektor dunia usaha. Pengeluaran ini dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki kemampuan menciptakan nilai tambah. Termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi. Untuk mengetahuiberapa potensi produksi, akan lebih akurat bila yang dihitung adalah investasi neto (net investment), yaitu investasibruto dikurangi penyusutan.
4). Ekspor Neto (Net Export)
            Yang dimaksud dengan ekspor bersih adalah selisih antara nilai ekspor dengan inpor. Ekspor neto yang positif menunjukan bahwa ekspor lebih besar daripada impor. Begitu juga sebaliknya. Perhitungan ekspor neto dilakukan bila perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain (dunia).
            Nilai PDB berdasarkan metode pengeluaran dari nilai total lima jenis pengeluar tersebut:
            PDB=C + G + I + (X-M).......................................................................(13,5)
Dimana :          C = konsumsi rumah Tangga
                        G = konsumsi / pengeluaran pemerintah
                        I = PMTDB
                        X = ekspor
                        M = impor
            Tabel 13.4 dibawah ini adalah data pendapatan nasional indonesia tahun 1996 berdasarkan struktur pengeluarannya. Dari data tersebut terlihat bahwa porsi pengeluaran terbesar adalah untuk konsumsi rumah tangga. Porsi pengeluaran lain yang relatif besar adalah  PMTDB. Data ekspor bersih menunjukan bahwa perekonomian indonesia merupakan perekonomian terbuka, yang melakukan transaksi infor dengan perekonomian dunia ( Global).
                             
Tabel 13.4
Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1996
(Harga Berlaku) Menurut Pengeluaran
(Dalam Milliar Rupiah)

Konsumsi Rumah Tangga (Privat Consumption)
Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Gross Capital Formation)
Ekspor Barang dan Jasa (Export Of Goods & Servicces )
Impor Barang dan Jasa ( Import Of Good & Servicces)
308.469
40.685
172.777
138.675
-131.660
Total PDB (GDB)
528.956
Catatan : Ekspor bersih (Net Exspor) = Ekspor – Impor = 7.015. Angka positif menunjukan Ekspor barang dan Jasa tahun 1996 lebih besar Rp. 7.015 miliar daripada impor barang dan jasa.
2.3 Beberapa Pengertian Dasar Tentang Perhitungan Agregat
Tujuan perhitungan output maupun pengeluaran dan ukuran-ukuran agregat lainnya adalah untuk menganalisis dan menentukan kebijakan ekonomi guna memperbaiki/ meningkatkan kemakmuran/kesejahteraan rakyat. Beberapa pengertian yang harus dipelajari berkaitan dengan hal tersebut adalah:
2.3.1        Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
Produk Domestik Bruto (PDB) menghitung hasil produksi suatu perekonomian tanpa memerhatikan siapa pemilik faktor produksi tersebut. Semua faktor produksi yang berlokasi dalam perekonomian tersebut output-nya diperhitungkan dalam PDB. Akibatnya, PDB kurang memberikan gambaran tentang berapa sebenarnya  output dihasilkan oleh faktor-faktor produksi  milik perekonomian domestik.
2.3.2        Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik perekonomian disebut sebagai Produk Nasional Bruto. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa PDB tidak memperhatikan produksi yang dihasilkan oleh faktor produksi milik domestik (perekonomian) yang beraa diluar perekonomian itu sendiri (berada diluar negri). Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor produksi yang berada diluar negeri harus ditambahkan. Angka yang dihasilkan dari pernjumlahan dan pengurangan terhadap PDB merupakan Produksi Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product.
Jika pendapatan faktor-faktor produksi luar negeri yang ada dalam perekonomian dinotasikan sebagai PELN sedangkan pendapatan Faktor-faktor produksi perekonomian yang ada di dalam negeri dinotasikan sebagai PFDN, maka:
PNB = PDB – PFLN + PFDN............................................................... (13.6)
Selisih antara PFLN dengan PFDN adalah pendapatan faktor produksi neto (PFLN) atau net factor income from abroad. Dengan demikian dapat juga dikatakan:
PNB = PDB + PFPN............................................................................(13.7)
Jika PFPN bernilai negatif, artinya pembayaran terhadap pendapatan faktor-faktor produksi luar negeri lebih besar daripada pemintaan atas balas jasa faktor produksi domestik yang digunakan oleh perekonomian luar negeri.
2.3.3 Produk Nasional Neto (Net National Product)
Untuk memperoduksi barang dan jasa dibutuhkan barang modal (cpital Goods). Inilah sebabnya sektor perisahaan harus melakukan investasi. Tujuan investasi tersabut adalah mengganti barang modal yang sudah ada. Dalam perhitungan PDB berdasarkan pendekatan pengeluaran, yang dimasukan adalah total pengeluaran investasi bruto . padahal yang lebih releven adalah investasi neto, yaitu investasi bruto dikurangi depresiasi. Karena itu memperoleh gambar output yang lebih akurat , maka PNB harus dikurangi depresiasi. Angka yang dihasilkan merupakan Produksi Nasional Neto (PNN).
PNN = PNB – depresiasi........................................................................(13.8)
2.3.4 Pendapatan Nasional (National Income)
Pendapatan Nasional (PN) merupakan balas jasa untuk seluruh faktor produksi yang digunakan.
PN = PNN – PTL + S..............................................................................(13.9)
Ket :    PN       =Pendapatan Nasional
            PNN    = P Nasional rodukNeto
            PTL     = Pajak Tidak Langsung
            S          = Subsidi
2.3.5Pendapatan Personal (Persinal Income)
Pendapatan Personal (PP) adalah bagian pendapatan nasional yang merupakan hak individu-individu dalam perekonomian, sebagai bals jasa keikutsertaan mereka dalam proses produksi. Cara perhitungannya sebagai berikut.
PP = PN – LTB – PAS +PIGK+PNBJ..................................................(13.10)
Ket: PP            = Pendapatan Personal
        PN           = Pendapatan Nasional
        LTB         = Laba Tidak Bagikan
        PAS         = Pembayaran Asuransi Sosial
        PIGK      = Pendapatan Bunga Yang Diterima Dari Pemerintah dan             Konsumen
        PNBJ       = Pendapatan Non Balas Jasa
                                                  
2.3.6 Pendapatan Pesonal  Disposabel (Disposable Personal Income)
Yang dimaksud engan pendapatan personal diposabel (PPD) adalah pendapatan personal yang dapat dipakai oleh inividu,  baik untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung. Besarnya adalah pendapatan personal dikurangi pajak atas pendapatan personal (PAP) atau personal taxes. 
Dari produk Domestik Bruto sampai ke pendapatan Personal Disposabel dapat diringkas sebagai berikut.
C + G + (X-M)            = Produksi Domestik Bruto (PDB)                         
Ditambah                    : Pendapatan Faktor Produksi Domestik Yang ada di Luar Negeri
Dikurang                     : Pembayaran Faktor Produksi Luar Negeri Yang ada di Dalam                  Negeri
                                    = Produk Nasional Bruto
Dikurang                     : penyusutan
                                    = Produk Nasional Neto (PPN)
Dikurang                     : Pajak Tidak Langsung
Ditambah                    : Subsidi
                                    =  Pendapatan Nasional (PN)
Dikurang                     : Laba Ditahan
Dikurang                     : Pembayan Asuransi Sosial
Ditambah                    : Pendapatan Bunga Personal dari Pemerintah dan Konsumen
Ditambah                    : Penerimaan Bukan Balas Jasa
                                    = Pendapatan Personal
Dikurang                     : Pajak Pendapatan Personal
                                    =  Pendapatan Personal Disposabel
2.4 PDB Harga Berlaku dan Harga Konstan
Nilai PDB suatu periode tentu sebenarnya merupakan hasil perkalian antara harga barang yang diproduksi dengan jumlah barang yang diproduksi dengan jumlah barang yang dihasilkn.
            Untuk memperoleh PDB harga konstan, kita harus menentukan tahun dasar (based year), yang merupakan tahun dimana perekonomian berada dalam kondisi baik/stabil. Harga barang pada tahun tersebut kita gambarkan sebagai harga konstan. Dalam kasus sdiatas, bila konsisi di tahun 2006 dianggap sebagai kondisi yang relatif baik, maka harga baju tahun 2006 digunakan sebagai harga dasar. Dengan demikian nilai PDB 2007 berdasakan harga konstan 2006 adalah:
PDB2007 = Q2007 X  P2006
                 = 1.000 x Rp80.000,00
Dari perhitungan diatas, dengan menghilangkan pengaruh inflasi karena menggunakan harga konstan, seger terlihat bahwa output 2007 ternyata lebih sedikit daripada output 2006. Nilai PDB 2007 ini disebut sebagai PDB riil (riel GDB). Sedangkan nilai PDB 2007 sebesar Rp 120.000,00 (yang dihitung atas dasar harga berlaku) disebut sebagai PDB Nominal. Secara umum hubungan antara PDB riil dengan PB Nominal dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan dibawah ini.
PDB riil = PDB nominal / Deflator............................................................(13.11)
Dimana:
            Deflator = (Harga tahun t : Harga tahun t-1) x 100%
Dalam kasus di atas, nilai deflator = (Rp 120,00 : Rp80,00) x 100% = 150%
Dengan demikian
PDB riil = Rp 120.000,00 : 150% = Rp80.000,00
Manfaat dari perhitungan PDB harga konstan, selainselain dapat dengan mengetahui apakah perekonomian mengalami perubahan atau tidak, juga dapat menghitung perubahan harga (inflasi).
Inflasi = (Deflator tahun t- Deflator t-1) 100%
(Deflator tahun t-1)
Dalam kasus diatas,
Inflasi = (Deflator 2007- Deflator 2006)
                        (Deflator 2006)

Tabel 13.6 dibawah ini merupakan data perekonomian Indonesia 1993-1996 berdasrkan harga konstan dan harga berlaku.
Tabel 13.6
Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Harga Berlaku
Dan Harga Konstan 1993, Periode 1993-1996
(Dalam Milliar Rupiah)

PDB
1993
1994
1995
1996
PDBHarga Berlaku        Harga
PDB Konstan 1993
329.776

329.776
382.120

354.641
454.514

383.792
532.568

413.798

2.5 Manfaat dan Keterbatasan Perhitungan PDB                
2.5.1 Perhitungan PDB dan Analisis Kemakmuran
Perhitungan  PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran suatu negara, dengan cara membaginya engan jumlah penduduk.
2.5.2 Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial                                     
Perhitungan PDB maupun PDB per kapita juga dapat digunakan untuk menganalisis tingkat kesejahteraaan sosial suatu masayarakat. Umumnya tingkat kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat pendidikan, kesehatan dan gizi, kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Ada hubungan yang positif antara tingkat PDB per kapita dengan tingkat kesejahteraan sosial. Makin tinggi PDB perkapita, tingkat kesejahteraan makin membaik. Contoh: sebaga berikut
                                                               Tabel 13.7
Pendapatan per kapita Beberapa Negara, Tahun 2003

Negara Berpendapatan  Menengah Rendah

US$
Negara Berpendapatan Tinggi

US$
Indonesia
810
Korea Selatan
12.020
Sri langka
930
Singapura
21.230
Filipina
1.080
Belanda
26.310
China
1.100
Inggris
28.840
Mesir
1.390
Jepang
34.510
Thailand
2.190
Amerika Serikat
37.610

2.5.3PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
Sampai batas-batas tertentu, angka PDB per kapita dapat mencerminkan tingkat produktivitas suatu negara.Misalnya, PDB per kapita Jepang pada tahun 1997 adalah US$38.160,00 sedangkan Filipina hanya US$ 1.200,00.
Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antar negara, ada beberapa hal yang perlu dpertimbangkan:
1.      Jumlah dan komposisi penduduk: bila jumlah penduduk makin besar, sedangkan komposisinya sebagaian besar adalah penduduk usia kerja (15-64 tahun) dan berpendidikan tinggi ( > SLA ), maka tingkat output dan produktivitasnya dapat makin baik.
2.       Jumlah dan struktur kesempatan kerja : Jumlah kesempatan kerja yang makin besar memperbanyak penduduk usia kerja yang dapat terlibat dalam proses produksi. 
3.      Factor-faktor non ekonomi: yang tercakup dalam factor-faktor non ekonomi antaralain etika kerja, tata nilai, factor kebudayaan dan sejarah perkembangan.

2.5.4 Perhitungan PDB dan Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Tak Tercatat (Underground Economy)
Angka statistic PDB Indonesia yang dilaporkan Badan Pusat ,Statistik hanya mencatat kegiatan ekonomi formal. Karena itu, satistik PDB belum mencerminkan seluruh aktifitas perekonomian suatu negara. Misalnya, upah pembantu rumahtangga di Indonesia tidak tercatat dalam statistis PDB. Begitu juga dengan kegiatan petani buah yang langsung menjual produknya kepasar.
Di negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih disebabkan oleh kelemahan administrative dan struktur kegiatan ekonomi masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan infor. Tetapi di negara-negara maju, kebanyakan kegiatan ekonomi yang tak tercatat bukan karena kelemahan administrative, melainkan karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan illegal atau melawan hukum. Padahal, nilai transaksinya sangat besar. Misalnya, kegiatan penjualan obat bius dan obat-obat terlarang lainnya.
2.6 Distribusi pendapatan (Income Distribusi)
Persoalanya sebenernya adalh bahwa kemakmuran masyarakat tidak semata-mata hanya didasarkan pada pokok ukuranbesarnya pendapatan nasional dan pendapatan per kapita saja, namun juga pendapatan nasional itu di disribusikan, apakah pendapatan nasional di disrior yang busikan secara merata ataukah timpang, pendapatan dianggap didistribusikan secara merata sempurna bila setiap individu memperoleh bagian yang sama dari output perekonomian.
            Ada beberapa indicator yang dapat di gunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Namun pada sub-sub ini hanya di bahas tiga cara yang lazim di gunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan,yaitu Kurva Lorenz, Koenfisien gini, dan kreteria dari bank dunia.

2.6.1 Kurva Lorenz (The Lorenz Curve)
Conto Kurva Lorenza yang menggambarkan Pendapatan Nasional.











2.6.2 Koefisien Gini ( Gini Coeficient )
Koefiesien Gini merupakan alat ukur ketidak adilan distribusi pendapatan (inequa income distribusi) dengan  menghitung luas kurva Lorenz. Areal yang di hitung adalah areal yang di batasi garis diagonal OB Dan garis lengkung OB (areal c). Jadi angka koefisien Gini berkisar nol sampai dengan satu. Makin buruk distribusi pendapatan, angka koefisien Gini makin besar.
            Cara penghitungannya sebagai berikut
Koefisien Gini =         Luas bidang c
                                     Luas Segitiga OBD   

Adapun Patokan nilai Koefisien Gini sebagai berikut.
Lebih kecil dari 0,3     : Tingkat ketimpangan rendah
Antara 0,3-0,5             : Tingkat ketimpangan moderat (sedang)
Lebih tinggi 0,5           : Tingkat ketimpangan tinggi.

2.6.3 Kreteria Bank Dunia
Dalam melihat distribusi pendapatan, Bank Dunia telah membuat criteria, yaitu mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu Negara Caranya dengan melihat besarnya kontribusi (sumbangan) dari 40% penduduk termiskin. Kriteria yang di pergunakan oleh Bank Dunia tersebut adalah:
1.      Apabila kelompok 20% penduduk termiskin memperoleh pendapatan lebih kecil dari 12% dari keseluruhan pendapatan nasional,maka di katakana bahwa Negara yang bersangkuta berada dalam tingkat kepentingan yang tinggi dalam distribusi pendapatan.
2.      Apabila kelompok 20% penduduk termiskin pendapatannya antara 12%- 16% dari keseluruhan pendapatan nasional,maka di katakana bahwa terjadi tingkat ketimpangan sedang (moderat) dalam distribusi pendapatannya.
3.      Apabila kelompok 20% penduduk termiskin pendapatannya lebih dari 16% dari keseluruhan pendapatan nasional, maka di katakana bahwa tingkat ketimpangan yang terjadi rendah.

2.7 Distribusi kekayaan (wealth Distribution)
Di Negara kapitalis maju, alternative individu untuk menyimpan kekayaan sangat beragam Mereka dapat membeli saham, obligasi, menyimpan dalam bentuk deposito dan asset-aset finansial lainya.
Di negara yang belum maju seperti Indonesia, jenis kekayaan yang di miliki keluarga tidak sebanyak di Negara maju. Umumnya kekayaan yang di miliki oleh keluarga di Indonesia adalah tanah dan rumah. Contonya bisa di lihat dalam buku yaitu Perkembangan Distribusi Pendapatan DKI Jakarta. Dibawah adalah tsbel dan kurva perkembangan  distribusi pendapatan DKI Jakarta.
Table 13.8 berikut ini memberikan gambaran tentang perkembangan distribusi pendapatan pada perekonomian DKI Jakarta
                                                                  Tabel 13.8
Koefisien Gini Perekonomian DKI Jakarta, Tahun 1997-2001


Tahun
40 %
Berdasarkan
Terendah
           40%       
Berdasarkan Sedang
40%
Berdasarkan
Tinggi

Rasio Gini
1997
19,8
45,2
45,2
0,34
1998
23,4
30,1
46,5
0,33
1999
21,4
38,9
49,7
0,32
2000
20,2
35,6
44,2
0,35
2001
21,8
37,0
41,2
0,31

                       Dari table 13.8 di atas dapat di buat angka kumulatif distribusi pendapatan seperti pada table 13.9 berikut ini.
Table 13.9
Angka Akumulatif  Distribusi PendapatanDKI Jakarta,
Tahun 1997-2001
Tahun

40% Penduduk
80% Penduduk
100 % Penduduk
1997
19,8
54,8
100,0
1998
23,4
53,5
100,0
1999
21,4
80,3
100,0
2000
20,2
55,8
100,0
2001
21,8
                  58,8
100,0

Selanjutnya dari table 13.9 diagramnya kurva Lorenz seperti pada diagram 13.3 dimana luas kurva Lorenz itulah yang di sebut sebagai rasio Gini untuk mudahnya, digambarkan dua kurva Lorenz tahun 1997 dan tahun 2001
Diagram 13.3
Kurva Lorenz perekonomian DKI Jakarta Tahun 1997-2001














                                                 Table 13.10
Perkembangan Stuktur Produksi Perekonomian DKI Jakarta, Tahun 2000-2002
(% PDRB Harga Konstan) 

SEKTOR EKONOMI
2000
2001
2002
SEKTOR PRIMER (Ekstraktif)
0,2%
0,2%
0,2%
Pertanian
0,2%
0,2%
0,2%
Pertambangan
0,0%
0,0%
0,0%
SEKTOR SEKUNDER (Industri)
34,5%
34,8%
33,9%
Manufaktur
21,6%
21,9%
21,4%
Listrik, Gas, Air Bersih
2,1%
2,1%
2,1%
Konstruksi
10,8%
10,8%
10,4%
SEKTOR TERSIER (Jasa-jasa)
65,3%
65,0%
66,0%
Perdagangan, Hotel,dan Restoran
23,8%
24,4%
24,3%
Transportasi dan komunikasi
10,1%
10,5%
10,7%
Keuangan dan sewa bangunan
22,1%
20,8%
21,9%
Jasa-jasa
         9,2%
9,3%
9,0%
TOTAL OUTPUT (PDRB)
100,0% 
100,0%
100,0%





BAB 111
PENUTUP
KESIMPULAN

1.      Metode-metode Penghitungan Pendapatan Nasional
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional, yaitu metode output (output approach), metode pendapatan (income approach), dan metode pengeluaran (expending approach). Masing-masing metode (pendekatan) melihat pendapatan saling melengkapi.
1.      Metode Output (output Approach) atau Metode Produksi
2.      Metode Pendapatan (Income Approach)
3.      Metode Pengeluaran (Expeniture Approach)
   2. Beberapa Pengertian Dasar Tentang Perhitungan Agregat
1.      Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
2.      Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
3.       Produk Nasional Neto (Net National Product)
4.       Pendapatan Nasional (National Income)
5.      Pendapatan Personal (Persinal Income)
6.       Pendapatan Pesonal  Disposabel (Disposable Personal Income)












DAFTAR PUSTAKA

Manurung, Mandala dan Prhatama Rahardja. (2008). Pengantar Ilmu Ekonomi. Lembaga    Penerbit Fakultas Ekonomi UI: Jakarta.